ISLAM, TRADISI, & NALAR KRITIS: Kritik Epistemologis dalam Pemikiran Al-Jabiri, Arkoun & Pergulatan Intelektual Muda NU
Rp 155.000
Berangkat dari kegelisahan yang tampak sederhana tetapi sesungguhnya sangat mendasar, buku ini mempertanyakan mengapa nalar umat Islam kerap lebih tunduk pada teks daripada peka terhadap realitas sosial yang terus berubah. Melalui pembacaan kritis terhadap pemikiran Al-Jabiri dan Arkoun, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa problem utama umat Islam bukan terletak pada kekurangan ajaran agama, melainkan pada cara memahami dan memperlakukan warisan pemikiran Islam itu sendiri. Keduanya sama-sama melihat bahwa teks suci sering kali ditempatkan secara beku dan final, sehingga menutup kemungkinan lahirnya pembacaan baru yang lebih relevan dengan tantangan zaman. Dari sinilah muncul kebutuhan mendesak untuk membangun kembali tradisi berpikir Islam yang lebih kritis, terbuka, dan rasional.
Melalui proyek besar yang dikenal sebagai “Kritik Nalar Arab”, Al-Jabiri membedah struktur berpikir Arab-Islam yang selama berabad-abad membentuk pola pengetahuan umat Islam. Ia menunjukkan bagaimana tradisi intelektual klasik sering kali berubah menjadi otoritas yang tidak boleh dipertanyakan, sehingga membatasi kebebasan berpikir dan kreativitas intelektual. Bagi Al-Jabiri, pembaruan Islam tidak cukup dilakukan melalui slogan modernisasi, tetapi harus dimulai dari rekonstruksi paradigma berpikir yang melandasi cara umat memahami teks, sejarah, dan realitas sosial. Dengan pendekatan rasional dan historis, ia berupaya membebaskan nalar Islam dari dominasi dogma yang membeku agar agama kembali mampu berdialog dengan perubahan zaman tanpa kehilangan fondasi etik dan spiritualnya.
Sementara itu, Arkoun memperluas medan kritiknya melalui proyek “Kritik Nalar Islam” dengan menyoroti wilayah-wilayah ortodoksi yang selama ini dianggap sakral dan tertutup dari kritik. Ia membongkar mitos, simbolisme, dan imajinasi religius yang telah mengendap dalam sejarah pemikiran Islam, lalu menawarkan pendekatan islamologi terapan sebagai metode untuk membaca Islam secara lebih historis, filologis, dan hermeneutis. Arkoun menolak anggapan bahwa tafsir tunggal dapat mewakili keseluruhan makna agama, sebab penyatuan mutlak antara agama, teks, dan tafsir justru mematikan dinamika intelektual Islam. Karena itu, ia mendorong lahirnya ruang dialog yang memungkinkan munculnya penafsiran alternatif demi menghidupkan kembali tradisi berpikir Islam yang lebih humanis dan progresif.
Yang membuat buku ini semakin relevan adalah keberaniannya menghubungkan gagasan Al-Jabiri dan Arkoun dengan perkembangan pemikiran Islam di Indonesia, khususnya di kalangan intelektual muda NU. Melalui pendekatan post-tradisionalisme Islam, generasi muda NU menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan demi modernitas, melainkan dapat dirawat sekaligus dikritisi secara kreatif dan kontekstual. Tradisi dipahami bukan sebagai benda mati yang dipuja tanpa refleksi, tetapi sebagai sumber intelektual yang terus dihidupkan agar tetap produktif menghadapi tantangan zaman.
Dengan kerangka analisis yang tajam dan argumentasi yang kuat, buku ini hadir sebagai rujukan penting bagi pembaca yang ingin memahami dinamika pemikiran Islam kontemporer sekaligus mencari jalan agar Islam kembali tampil sebagai kekuatan pembebas yang kritis, transformatif, dan berpihak pada kemanusiaan.
Rincian Buku:
Penulis : Mizanul Akrom
Penerbit : Silda Impika
ISBN : 978-634-97029-6-6
Tahun : 2026
Ukuran : 15,5 x 23 cm
Halaman : 264 hal

Posting Komentar